Connect with us

Hukum Kriminal

Tak Hanya LGBT, Semua Pencabulan Harus Kena Hukum

Published

on

metaonline.id
istimewa

METAONLINE,- Pembahasan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (R KUHP) kembali menyasar pasal-pasal kesusilaan. Penghapusan frasa ‘sesama jenis’ dari pasal tentang perbuatan cabul, akan membuat pasal ini tidak lagi diskriminatif terhadap kelompok Lesbian, Gay, Biseks, dan Transgender. Semua pelaku perbuatan cabul bakal dipidana.

Anggota Aliansi Nasional Reformasi KUHP yang juga peneliti Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), Maidina Rahmawati menuturkan, pada Januari 2018, Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan pengujian undang-undang tentang perluasan delik tentang kesusilaan dalam KUHP, yaitu perbuatan cabul sesama jenis. Namun, belakangan, perumus RKUHP berusaha mengkriminaliasi hubungan seksual sesama jenis lagi.

“Meski pihak perumus RKUHP berkelit bahwa pasal tersebut tidak menyasar orientasi seksual seseorang dengan merumuskan kondisi-kondisi tertentu, Aliansi Nasional Reformasi KUHP menilai, hadirnya rumusan tersebut bertendensi kuat menyasar kelompok orientasi seksual berbeda, sehingga menjadi sangat diskriminatif,” katanya.

Untuk diketahui, pasal 454 (draf 8 Maret 2018) yang mengatur tentang tindak pidana pencabulan sesama jenis dihapus, dan mengintegrasikan pasal tersebut dengan Pasal 451 tentang Percabulan.

Dijelaskan, perbuatan cabul dalam ketentuan ini dilakukan dengan orang yang sama jenis kelaminnya atau orang yang berbeda jenis kelaminnya. Pihak perumus pun mendefinisikan perbuatan cabul. Yaitu, segala perbuatan yang melanggar norma kesusilaan, ke atau perbuatan lain yang tidak senonoh, dan selalu berkaitan dengan nafsu birahi atau seksualitas.

“Merumuskan unsur dengan spesifik mengkriminalkan kelompok seksual berbeda jelas menunjukkan adanya diskriminasi terhadap warga negara dan bertentangan dengan tujuan dari hukum pidana itu sendiri,” terang Maidina. (Sir/bbs)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum Kriminal

Reformasi Birokrasi Belum Berjalan Efektif

Published

on

By

metaonline.id
Wakil Koordinator ICW, Ade Irawan. (istimewa)

METAONLINE,- Banyaknya Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tersangkut kasus korupsi, perlu mendapat perhatian serius. Hal itu menandakan reformasi birokrasi belum berjalan efektif.

Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), Ade Irawan menyebutkan, banyak kasus korupsi yang melibatkan ASN.

“Kalau lihat rata-rata kasus di Indonesia ada 500-an kasus, bisa lebih dan kurang. Jumlah tersangka rata-rata 1.200 orang. Kalau dilihat siapa yang paling banyak ditangkap aparat penegak hukum dan ASN,” ujarnya di Jakarta.

Kondisi ini terbilang miris lantaran ASN merupakan mesin penggerak roda pemerintahan. Apalagi, masalah utama birokrasi justru berada pada struktur teratas.

Selama ini yang banyak disasar dari reformasi birokrasi adalah birokrasinya. Sementara atasan, terutama para politisi tidak terlalu jadi fokus perhatian.

Menurut Ade, masalah utama di birokrasi adalah atasannya. Misalnya, birokrasi kepada atasan, loyalitas pada atasan. Kasus korupsi yang biasa terjadi dalam birokrasi, adalah autogenic corruption dan korupsi sistemik atau korupsi berjemaah. Mereka menempatkan birokrasi sebagai eksekutor untuk melakukan praktik korupsi.

Jika dilihat dari banyaknya kasus yang terjadi saat ini, termasuk yang ditangani KPK, praktik korupsi diawali sedari pengambilan keputusan di tingkat perencanaan anggaran.

“Rencana korupsi ‘kan dimulai dari situ. Lalu siapa yang eksekusi? Birokrasi,” sebutnya.

Perencanaan memberikan celah bagi korupsi dalam pengelolaan APBD kemudian di SKPD menindaklanjuti mengadakan manipulasi dengan pengadaan barang-barang dan jasa. “Tapi di ujung kemudian yang kena pertama birokrasi,” imbuhnya. (Sir/bbs/net)

Continue Reading

Banten Raya

Politisi Muda PKB Ajak Generasi Milenial Bijak Gunakan Medsos

Published

on

Wakil Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Gemasaba Banten, Yanuar Prastyo, Kamis (4/10/2018).

SERANG, MO – Kasus kebohongan Ratna Sarumpaet yang hampir saja memecah belah bangsa Indonesia patut dijadikan pelajaran berharga bagi generasi muda, khususnya kaum milenial untuk berhati-hati dan lebih bijak menggunakan media sosial (medsos).

“Mari kita lebih bijak bermedsos agar kita tidak menjadi korban ataupun perangkap orang lain yang memang ingin memanfaatkan kita untuk memecah belah bangsa. Kasus Ibu Ratna mesti kita jadikan contoh buruk,” ujar Wakil Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Gemasaba Banten, Yanuar Prastyo, Kamis (4/10/2018).

Menurut Yanuar, belajar dari kasus tersebut sebaiknya setiap foto, video, berita maupun informasi bentuk lainnya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya tidak langsung dipercaya ataupun dishare.

“Cek dan ricek menjadi penting agar kita tidak menjadi korban. Kalaupun kita ragu dengan isi berita yang ditampilkan lebih baik tidak ikut mempercayai atau menshare,” ujarnya.

Yanuar meminta semua generasi muda di Kota Tangerang lebih bijak dan cerdas menyikapi setiap berita yang berseliweran di medsos.

“Saya yakin generasi milenial Kota Tangerang tidak mau masuk perangkap, tidak ingin menjadi penyumbang kehancuran bangsa, tidak ingin menjadi korban permainan elite politik yang tidak beretika,” katanya.

Calon Anggota Legislatif (Caleg) Dapil V Kota Tangerang itu mengingatkan bahwa menggunakan medsos tujuannya untuk eksis diri dan sebagai pembentukan citra diri. Bukan citra orang lain.

“Bohong bila post di medsos tujuannya tidak ingin eksis. Karena di medsos sarana publik untuk mengenal banyak orang sehingga seluruh orang tau tentang kita. Tapi kita tidak boleh terjebak permainan orang lain,” tandas Yanuar. (fi)

Continue Reading

Hukum Kriminal

Tiga Pemabuk Keroyok Rekan Satu Tongkrongan Hingga Tewas

Published

on

ML dan KK digiring petugas saat ungkap kasus di Mapolsek Cipondoh, Senin (17/9/2018).

TANGERANG, MO – Bahwa minuman keras dapat memicu kejahatan nyatanya terjadi di Cipondoh. AJ (34) tewas dikeroyok sekelompok pemuda mabuk saat pesta miras di Jalan Haji Ridan RT 02/02, Kelurahan Poriss Plawad Indah, Cipondoh, Kota Tangerang beberapa waktu lalu.

Kepolisian Sektor (Polsek) Cipondoh meringkus dua dari tiga tersangka pengeroyokan AJ dalam waktu singkat. Tersangka berinisial ML alias BT (33), serta KK (45) diringkus polisi di kediaman mereka, tak jauh dari lokasi pengeroyokan.

“Usai kita olah TKP, kurang dari 2 jam (tersangka) tertangkap,” kata Kompol Sutrisno saat ungkap kasus di Mapolsek Cipondoh, Senin (17/9/2018).

AJ tewas diamuk para tersangka saat pesta miras, Sabtu (15/9/2018) lalu. Kapolsek menerangkan, penganiayaan berujung maut itu dipicu persoalan sepele. Mulanya, Tersangka BT memukul korban dengan tangan kosong lantaran tak terima dimaki.

“Korban dan para tersangka akibat pengaruh minuman keras terjadilah keributan,” imbuhnya.

Tersangka lainnya, yakni KK dan LF (46) ikut membantu ML menganiaya korban secara membabi buta.

“AH Alias KK menyiram korban dengan kecap yang berada di piring plastik ke arah wajah korban dan memukul sebanyak 2 (dua) kali ke arah kepala bagian belakang korban sehingga korban tersungkur jatuh di tanah. Kemudian tersangka LF Alias IJ memukul berkali-kali dan menginjak kepala korban lalu korban berteriak meminta tolong,” ungkap Kapolsek.

Salah seorang saksi warga, Arif mendengar teriakan korban. Ia mendekat ke tempat kejadian perkara dan melerai pertengkaran tersebut. Melihat korban terkulai lemah, Arif dibantu warga lainnya membawa korban ke rumah sakit terdekat.

“Saksi membawa korban ke rumah sakit EMC (Elang Medika Corpora) Tangerang tetapi setelah sampai Rumah Sakit nyawa korban tidak tertolong,” pungkasnya.

Sutrisno mengaku, pihaknya masih memburu tersangka LF yang melarikan diri usai mengetahui korbannya meninggal dunia. Ia meminta LF alias Iaj menyerahkan diri.

“Dua tersangka yang ditangkap gak tahu kalau korbannya meninggal. Si LF ini instingnya kuat, maknnya dia lari. Saya menyarankan segera menyerahkan diri ke Polsek Cipondoh, sebelum mendapat resiko lebih buruk,” tegasnya.

Kelakuan tak terpuji para tersangka diganjar hukuman kurung badan paling lama 15 tahun. Hukuman itu, sambung Kapolsek, sesuai dengan Pasal 338 KUHP. (FI)

 

 

Continue Reading

Trending