Connect with us

general

Mundur Dari Kepala BPIP, Apa Ada Masalah Internal?

Published

on

metaonline.id
Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan. (istimewa)

METAONLINE,- Keputusan Kepala BPIP Yudi Latif menyatakan mundur dari jabatannya ini dihujani respons para pejabat negeri. Apalagi beberapa waktu lalu BPIP jadi sorotan dan polemik terkait gaji pejabat BPIP.

Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan penasaran dengan keputusan Yudi. Kenapa di saat polemik gaji sudah mereda, kok tiba-tiba Kepala BPIP mundur. Ini mengesankan ada permasalah internal.

Pasalnya, Yudi mundur di tengah maraknya sorotan soal gaji dan hak keuangan Dewan Pengarah BPIP.

“Pekan lalu, BPIP menjadi sorotan terkait gaji para pejabatnya, khususnya Dewan Pengarah. Isu itu sudah mereda, Pemerintah sudah klarifikasi, tapi Kepala BPIP tiba-tiba mundur. Ada apa di internal BPIP? Ini memberi kesan, ada permasalahan internal,” ujar Taufik, kemarin.

Menyikapi persoalan tersebut, Taufik meminta Pemerintah memberikan penjelasan kepada publik, khususnya ihwal kemunduran Yudi. Sebab, kelahiran BPIP yang menjadi harapan baru bagi masyarakat, justru terusmenerus menjadi polemik.

“Kami berharap, BPIP tampil dan menjawab harapan masyarakat soal membumikan Pancasila. Di tengah derasnya isu paham radikalisme, kami berharap BPIP meningkatkan pembinaan ideologi Pancasila, dan membantu Presiden dalam merumuskan arah pembinaan ideologi Pancasila,” ungkap Wakil Ketua Umum PAN itu. (Sir/bbs)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kota Tangerang

Formalisme Sepakbola Zaman Now Versus Realisme Gol

Published

on

Ilustrasi gol dalam sepakbola. (Ist)

OPINI,MO – Patut diduga bahwa sistem sepakbola zaman now sangat dipengaruhi oleh—atau bahkan merupakan penerapan terhadap—logika formal Aristoteles. Faktor penyebabnya adalah fakta historis bahwa sepakbola tumbuh, berkembang pesat dan menjadi sangat populer di Barat dan hal ini berlangsung bersamaan dengan kuatnya pengaruh Aristotelianisme terhadap cara pandang Barat terhadap segala sesuatu.

Contoh paling gamblang dari kuatnya pengaruh logika formal Aristoteles terlihat jelas di dalam cara Barat memahami dan menggunakan kata maupun cara mereka merumuskan sistem pertandingan sepakbola.

Di Barat, ada kecenderungan untuk memahami kata sebagai mewakili pikiran. Penerapan logika formal Aristoteles dalam bahasa telah membuat susunan kata di dalam kalimat menjadi lebih penting daripada isi kalimat yang berkaitan langsung dengan realitas. Dengan istilah lain, kata maupun kalimat bukan merupakan—atau tidak diperlakukan sebagai—sebuah gambar mengenai realitas (as a picture of reality). Hukum-hukum dalam pikiran bukan hanya menguasai bahasa maupun semester pembicaraan, namun juga mendikte realitas. Karena itu, universalitas, aksiomatika, putusan a priori dan prinsip-prinsip sering diterapkan secara tidak adil terhadap fakta dan realitas. Artinya, fakta dan realitas sering dikalahkan atau bahkan dikorbankan oleh akal pikiran.

Penerapan logika formal Arsitoteles dalam sistem pertandingan sepakbola zaman now menggejala melalui perlakuan tidak adil terhadap kedudukan maupun fungsi gol yang hanya menjadi epifenomena (gejala samping) bagi makna kemepangan pada setiap pertandingan. Karena itu, kemenangan suatu tim sepakbola hanya mengandung arti sebagai kemenangan pada setiap pertandingan. Gol bukan merupakan penentu sejati (genuine determinant) bagi kemenangan. Gol bukan pula merupakan tujuan akhir (ultimate end) bagi setiap tim sepakbola. Akibatnya, muncul sebuah paradoks dimana tim sepakbola yang kurang produktif dalam mencetak gol dapat keluar sebagai pemenang. Sebaliknya, tim sepakbola yang produktif justru malah tersingkir.

Sistem Pertandingan Sepakbola Formalistik

Persoalannya, mengapa sampai terjadi paradoks semacam itu? Penyebabnya adalah penerapan logika formal Aristoteles terhadap makna kemenangan sebuah tim sepakbola pada setiap pertandingan dimana gol hanya berperan sebagai epifenomena. Artinya, jika tim sepakbola Anda—dalam babak fase grup yang terdiri dari empat kesebelasan—berhasil memenangkan dua pertandingan dengan skor masing-masing 1-0 dan kalah pada pertandingan ketiga dengan skor telak 0-6, tim sepakbola Anda dapat lolos ke putaran berikutnya selagi belum ada tim lain dengan selisih gol yang lebih baik. Lolos ke putaran berikutnya dengan hanya mencetak dua gola di dua pertandingan dan kalah telak dengan skor 0-6 jelas menunjukkan ciri formalistik dari sistem pertandingan sepakbola yang diterapkan. Sekali lagi, gol tidak menjadi tujuan tertinggi (ultimate end) dan bukan merupakan faktor penentu kemenangan dalam arti yang sesungguhnya.

Kelemahan-kelemahan yang melekat pada logika formal Aristoteles menjadi kongruen atau setara dengan kelemahan-kelemahan yang ada pada sistem pertandingan sepakbola yang formalistik. Jika ada dua tim sepakbola bertanding dan hasilnya imbang apakah skornya 0-0 atau seberapa pun, maka kedua tim berbagi poin 1. Ada persoalan yang sangat krusial dalam hal ini, yakni bagaimana sebuah pertandingan sepakbola dengan hasil akhir yang negatif dari segi pencetakan gol (skor 0-0) bisa menciptakan hasil positif berupa keberbagian poin 1 bagi kedua tim yang bertanding?

Jika tim sepakbola Anda menang dalam suatu pertandingan, berapapun skornya, tim Anda memperoleh poin 3 sedangkan tim yang kalah memperoleh poin 0. Persoalannya adalah bagaimana kemenangan 1-0 dapat dianggap setara atau diperlakukan sama dengan kemenangan 7-0?

Kemudian jika tim sepakbola Anda menang dengan skor 4-3, poin yang tim Anda peroleh adalah 3 sedangkan tim lawan memperoleh poin 0. Cara perhitungan semacam ini menunjukkan kurangnya apresiasi terhadap gol yang tercipta selama pertandingan, yang berarti pula tindak pengabaian terhadap nilai produktifitas tim sepakbola yang bertanding. Dalam sistem pertandingan sepakbola yang formalistik, kebermaknaan gol hanya diperhitungkan kelak di kemudian hari khususnya ketika poin yang tim Anda peroleh sama dengan poin yang diperoleh tim lain pada babak fase grup.

Sebenarnya FIFA telah berupaya mengkoreksi kelemahan semacam ini dengan memberlakukan kemenangan aggregate pada sistem pertandingan home and away (kandang-tandang). Tetapi langkah yang ditempuh FIFA masih bersifat parsial dan masih jauh dari sifat radikal dan substansial. Buktinya hingga saat ini, FIFA masih tetap menganggap gol sebagai pseudo realitas atau bukan sebagai faktor penentu kemenangan yang sesungguhnya.

Sistem Pertandingan Sepakbola Realistik

Dalam sistem ini, gol menjadi tujuan tertinggi dan faktor yang paling menentukan bagi kemenangan suatu tim sepakbola secara keseluruhan. Gol juga menjadi karakteristik mutlak pembeda tim sepakbola yang produktif yang layak menjadi juara kompetisi dari tim sepakbola yang kurang produktif yang lebih layak untuk menjadi pecundang. Dengan sistem ini, kemenangan suatu tim sepakbola tidak lagi ditentukan di dalam makna kemenangan pada sebuah pertandingan, namun kemenangan dalam arti banyaknya gol yang diciptakan.

Jika suatu pertandingan berakhir imbang dengan skor 0-0, maka kedua tim berbagi poin 0. Tak ada alasan untuk memberi poin 1 bagi kedua tim. Sebab, tak ada gol tercipta dalam pertandingan itu dan secara realistik, angka 0 haruslah diperlakukan sebagai angka 0.

Jika hasil akhir suatu pertandingan sepakbola adalah 1-0, maka tim sepakbola yang menang beroleh poin 1 sedangkan yang kalah harus diganjar dengan poin -1. Demikian seterusnya sehingga pertandingan yang, misalnya, berakhir dengan skor 4-0, maka tim pemenang beroleh poin 4 sedangkan tim yang kalah diganjar dengan poin -4.

Kemudian, jika suatu pertandingan berakhir dengan skor 3-2, tim pemenang beroleh poin positif 3 sedangkan tim yang kalah tetap beroleh poin positif 2. Jika, misalnya, suatu pertandingan berakhir imbang dengan skor 4-4, kedua tim yang bertanding sama-sama memperoleh poin 4. Dengan demikian, setiap satu gol adalah setara dengan satu realitas. Dalam sistem pertandingan sepakbola realistik, hanya realitas gol yang berbicara. Tim yang keluar sebagai juara dalam sebuah kompetisi adalah tim yang paling produktif dan bukan tim tidak produktif yang bersembunyi di balik istilah kemenangan pada setiap pertandingan dengan skor yang tipis.

Dengan perubahan sistem dari sistem pertandingan sepakbola formalistik menjadi sistem pertandingan sepakbola realistik, muncul harapan kuat agar timnas sepakbola kita dapat jauh lebih bersemangat dalam menciptakan gol ke gawang lawan. Diharapkan pula agar para suporter tim sepakbola kita lebih tertarik kepada jumlah gol yang tercipta. Kemudian, lupa terhadap kebiasaan buruk berbuat rusuh dengan tawuran di sana sini. Tetapi, benarkah?

*oleh Zaimul Am. Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah
Tangerang dan Mantan Kiper Porgapda

Continue Reading

Ekonomi

Pasca Lebaran Daya Beli Diprediksi Kembali Melemah

Published

on

By

metaonline.id
ilustrasi/istimewa

METAONLINE,- Perayaan lebaran tahun ini dinilai cukup memanas laju ekonomi nasional. Namun, hal tersebut diprediksi tidak akan bertahan lama lantaran inflasi dan kurs rupiah yang saling berkaitan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, selama Ramadan dan Lebaran, laju pertumbuhan ekonomi memang cukup signifikan. Namun, pasca hari raya kembali mengendor karena inflasi dan kurs rupiah.

“Dampak Lebaran kemarin, dengan adanya Tunjangan Hari Raya Pegawai Negeri Sipil (THR PNS) dan pensiunan jadi stimulus untuk gerakkan sektor ritel, hotel, restoran dan pariwisata,” kata Bhima.

Selain itu, libur panjang dan kecenderungan perilaku konsumtif masyarakat Indonesia pasca hari raya juga diharapkan mampu mendorong laju ekonomi. Bhima mengatakan, proyeksinya ekonomi kuartal II tahun ini bisa tumbuh 5,15 persen dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencapai 5,2 persen.

Bhima memprediksi, inflasi pada bulan Juni, di kisaran 0,3 persen atau masih lebih rendah dibandingkan Juni tahun lalu sebesar 0,69 persen.

“Artinya, harga kebutuhan pokok memang masih stabil, kalaupun ada kenaikan harga selama Ramadan dan Lebaran, tidak signifikan. Namun, dorongan harga biasanya di transportasi, hal ini dinilai wajar karena ada momentum mudik Lebaran,” kata Bhima. (Sir/bbs/net)

Continue Reading

Nasional

Messi dan Kutukan Argentina

Published

on

Messi usai gagal memasukan bola saat menendang pinalti. (Ist)

OPINI,MO – Antara menit ke 60 dan 63. Saat Argentina melawan Islandia pada fase grup Piala Dunia 2018. Para pendukung Argentina harap-harap cemas. Messi meletakkan bola di titik putih di dalam kotak penalti. Sekilas dia menatap ke arah gawang Islandia. Kiper Islandia, Hannes Halldorsson, telah bersiap. Tak lama berselang, Messi menendang bola ke arah kiri gawang. Tetapi tendangannya lemah. Bola bergerak cukup lamban sehingga kiper Islandia dapat mengantisipasinya. Messi gagal. Dia tampak sangat kecewa. Begitu pula para supporter Argentina.

Ada cukup banyak analisis mengenai kegagalan Messi. Analisis ini telah memecah para pengamat sepakbola ke dalam dua bongkahan besar. Pertama, kaum literalis sepakbola, yakni mereka yang memandang sepakbola dari perspektif strategi, taktik dan fenomena kasat mata pada setiap pertandingan sepakbola. Kedua, kaum hermeneutik sepakbola, yakni mereka yang berupaya menafsirkan fenomena pertandingan dengan menggunakan bahan-bahan “eksternal-spiritual.”

Analisis Kaum Literalis Sepakbola

Ketika Messi gagal mengeksekusi penalti ke gawang Islandia, kaum literalis membuka file historis yang berkaitan dengan berbagai pertandingan sebelumnya, baik yang melibatkan Messi maupun tidak. Ada beberapa data yang diperoleh.

Pertama, statistik keberhasilan Messi dalam tendangan penalti. Pada Coppa Amerika, Messi gagal mengeksekusi penalti dan akibatnya Argentina gagal meraih tropi. Kesebelasan Chili yang menjadi juaranya. Secara statistik, Messi sudah tiga kali gagal mengeksekusi penallti bersama Argentina (Ini belum termasuk babak adu penalti). Jumlah-jambleh, tingkat kegagalan Messi dalam mengeksekusi penalti sudah mencapai 57% atau sudah melampaui ambang batas kegagalan yang bisa ditoleransi (over legal-failure-limit).

Kedua, Messi ternyata lebih sering gagal dalam membela Argentina dibandingkan ketika membela Barcelona. Mengapa? Di Barcelona, Messi memiliki dukungan sangat penting dari para pemain tengah yang tangguh, seperti Xavi dan Iniesta. Tetapi dukungan seperti ini tak diperolehnya dari para pemain tengah seperti Teves, Aguero dan Higuain.

Ketiga, ada kemungkinan Hannes Halldorsson, kiper Islandia, sudah membaca pikiran Messi sehingga dia dapat sigap dalam mengantisipasi arah bola. Seperti yang dilansir SkySport, Halldorsson mengaku telah melaksanakan cukup banyak riset tentang Messi. Halldorsson berkata, “Saya melakukan ini karena saya tahu bahwa situasi seperti ini mungkin saja terjadi.” Halldorsson juga mengungkapkan dirinya memang mencoba untuk masuk ke dalam pikiran Messi, “Saya coba masuk ke dalam pikirannya agar dia juga berpikir tentang saya. Hari ini, saya punya perasaan bagus untuk mengantisipasi tendangannya,” kata Halldorsson.

Analisis Kaum Hermeneutik Sepakbola

Kaum hermeneutik sepakbola berpendapat bahwa perspektif kaum literalis sepakbola sebagai ngawur dan keliru. Menurut mereka, secara umum ada dua faktor penyebab kekeliruan kaum literalis sepakbola. Pertama, mereka adalah orang-orang yang rabun jauh (miopik). Kedua, persepakbolaan dunia telah mengkonstruksi leksikon dan diskursus untuk menjelaskan ihwal dirinya sendiri dan sistem tafsir tertutup ini telah mematahkan berbagai tafsir alternatif lainnya. Messi dan Argentina diramalkan tidak akan menang dalam kompetisi apapun dan faktor penyebabnya justru tidak ada hubungannya dengan sepakbola itu sendiri.

Kaum hermeneutik sepakbola yakin bahwa ada faktor utama ketidakmungkinan Argentina menjadi juara piala dunia setelah 1986, yakni faktor Kutukan Argentina yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan strategi atau taktik apapun yang diterapkan oleh tim sepakbola Argentina. Sekurang-kurangnya memang ada tiga versi ihwal Kutukan Argentina.
Pertama, Kutukan Argentina bermula dari janji pelatih Bilardo menjelang Piala Dunia 1986. Bilardo mengajak skuadnya—kecuali Maradona yang tidak ikut—berkunjung ke Tilcara, sebuah kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 4000 orang. Di Tilcara, tepatnya di dalam The Virgin of Copacabana of the Abra of Punta del Corral, Bilardo bersimpuh, berdoa dan berjanji bahwa jika ada kemukjizatan dan skuad Argentina berhasil menjadi juara Piala Dunia di Meksiko, dia akan datang kembali ke Tilcara. Ada dua orang saksi bagi janji legendaris ini, David Gordillo dan Sara Vera, seorang penduduk Tilcara. Masalahnya, setelah menang, skuad Bilardo tidak pernah kembali ke Salta maupun ke Tilcara untuk berterimakasih kepada the Virgin of Tilcara. Gordillo tidak yakin terhadap Kutukan the Virgin of Tilcara. Tetapi Sara Vera, saat diwawancarai oleh El-Tribuno pada 2014 menjelang perhelatan Piala Dunia di Brasil, menyatakan bahwa dia dan banyak penduduk Tilcara lainnya yakin bahwa Argentina tidak akan pernah menjadi juara Piala Dunia lagi kecuali jika skuad Argentina datang kembali ke Tilcara untuk menepati janji. Sedangkan Bilardo, sang pelatih, membantah pernah mengucapkan janji semacam itu. Karena itulah, dia dan timnya tidak pernah kembali ke Tilcara.

Kedua, ada Maldicion del Patito Feo (Kutukan Itik Buruk Rupa). Kutukan ini muncul lantaran rilis pertunjukan singkat Patito Feo (Itik Buruk rupa) oleh TV Argentina. Patito Feo adalah kisah buruk yang dapat membawa akibat buruk bagi pemirsanya. Di penjara Cina, misalnya, para akitifis hak tani dipaksa menonton atau membaca skrip keseluruhan episode Patito Feo hingga otak mereka meleleh melalui hidung mereka. Sebagian besar dari mereka bahkan bunuh diri sebelum pertunjukan usai. Dunia tidak pernah memaafkan Argentina atas rilis monster ini. Karena itu, Messi dan Argentina tidak akan keluar sebagai pemenang. Bukan lantaran pemain, taktik atau nasib buruk. Tetapi akibat Maldicion del Patito Feo (Kutukan Itik Buruk Rupa).

Ketiga, ada kutukan Tata Martino. Yang disebut terakhir ini adalah pelatih yang pernah menangani skuad Argentina maupun Barcelona. Messi pernah berada di bawah asuhan Martino di skuad Argentina dan Barcelona. Bersama Martino, skuad Argentina dua kali mencapai final Coppa Amerika namun dua kali pula gagal menjadi juara karena dua kali dikalahkan oleh Chili. Selain itu, semasa kepemimpinan Martino sebagai pelatih skuad Barcelona, Messi gagal di banyak turnamen dan hanya sukses di Supercopa de Espana setelah mengalahkan skuad Atletico Madrid. Messi dan Barca kalah pada final Divisi Primer Spanyol dari skuad Rojiblancos. Barcelona bersama Messi juga gagal di final Copa del Rey karena dikalahkan Real Madrid. Bukan itu saja, di semifinal Piala Champion pun Messi dan Barca takluk oleh Atletico Madrid. Kaum hermeneutik sepakbola tampaknya kemudian menggeneralisasi Kutukan Martino ini secara lebih universal sehingga mencakup kegagalan Messi mengeksekusi tendangan penalti ke gawang Islandia dan ketidakmungkinan atau bahkan kemustahilan skuad Argentina bisa keluar sebagai juara di Piala Dunia Rusia 2018 ini.

Tetapi, by the way, skuad sepakbola kita ternyata jauh lebih buruk dibandingkan dengan skuad Argentina. Kita tidak pernah lolos dalam babak kualifikasi Piala Dunia. Selain itu, supporter sepakbola kita sering menimbulkan kerusuhan nyaris di mana saja dan kapan saja. Jika mau dikaitkan dengan kutukan, tentu kutukan terhadap skuad sepakbola kita jauh lebih dahsyat jika dibandingkan dengan Kutukan Argentina. Kira-kira kutukan apa ya? Kutukan Nyi Loro Kidul, tah?

Penulis:

Zaimul Am (Dosen UMT Tangerang)

Continue Reading

Trending