MUI Tangsel Bina 100 Kader Ulama

0
120

TANGSEL, MO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangsel menggelar kegiatan Pembinaan  Kader Ulama MUI Kota Tangerang Selatan bertempat di Serpong, Tangsel pada 17 Oktober 2019.

Turut hadir Wakil Walikota Tangsel, Benyamin Davnie, Kepala Kantor Kemenag Tangsel, Abdul Rojak, Ketua MUI Tangsel, Kh Saidih, dan para kader ulama se-kota Tangsel sebanyak 100 orang peserta utusan dari perwakilan MUI Kecamatan dan MUI Kelurahan se Kota Tangsel, ormas Islam, utusan Remaja Masjid dan Penyuluh Agama Islam se Kota Tangsel.

Narasumber terdiri dari Kepala Kantor Kemenag Tangsel Abdul Rojak , Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta DR. Dimyati Sajari dan Pimpinan Ponpes Tebar Iman Ciputat KH. Cholisudin Yusa .

Ketua MUI Tangsel, Kh Saidih, mengatakan kegiatan Pembinaan Kader Ulama ini dalam rangka membahas perkembangan dakwah di Kota Tangsel. Menurutnya, MUI adalah lembaga independen yang mewadahi para ulama, dan cendikiawan Islam untuk membimbing, membina, dan mengayomi umat Islam.

“MUI harus berfungsi sebagai pemberi edukasi dan pembimbing bagi umat, pemberi solusi bagi masalah keagamaan. Dan yang tidak kalah penting adalah sebagai pengawal konten dalam media massa. Oleh karena itu, MUI Tangsel merasa berkewajiban memberi pembinaan kepada para kader,” ungkapnya.

Menurut Dimyati Sajari, peran ideal yang diharapkan dari seorang ulama adalah menjadi tempat bertanya umat atau menjadi rujukan umat. Di sinilah seorang ulama idealnya memiliki majlis taklim binaan sebagai wadah umat menimba ilmu. Ideal seorang ulama bukan saja menjadi rujukan keilmuan umat, tetapi juga merupakan rujukan keteladanan bagi umat.

“Keteladanan ulama ini, di antaranya kesopanan. Idealnya, seorang ulama adalah orang yang paling sopan di masyarakat, khususnya kesopanan spiritual. Seorang ulama tidak layak bernampilan yang tidak menunjukkan keulamaannya. Idealnya, seorang ulama adalah figur yang paling memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungannya. Kepedulian di sini bukan yang bersifat karitatif, tetapi yang solutif-sistematis. Empati. Idealnya, seorang ulama adalah figur yang paling empati di masyarakat. Bila ada tetangganya yang sakit, maka dialah orang pertama yang membesuknya,” kata dosen sekaligus ulama humoris ini.

Sementara itu menurut Kh Cholisudin Yusa, seorang da’i yang baik adalah mereka yang dapat membangkitkan ruhani jamaah untuk semakin mencintai Allah dan Rosul-Nya. Takut akan ancamannya dan semangat mencari keridhoannya. Seorang da’i mesti dapat merubah para pelaku maksiat menjadi taubat dari taubat menjadi taat dari taat menjadi istiqomah dan dekat dengan Allah SWT.

“Sementara dakwah yang gagal atau tidak baik adalah mereka yang mendorong manusia semakin mencintai dunia, jauh dari Allah dan Sunah Rasulnya dan agama bahkan menjadi bahan olok-olokan belaka dan menimbulkan fitnah di tengah masyarakat,” tambah ia.

Kepala Kantor Kemenag Tangsel,  H Abdul Rojak  menegaskan pentingnya bagi seorang pendakwah untuk menyampaikan pesan-pesan agama secara benar dan dengan cara yang menyejukkan.

“Apalagi di zaman sekarang, materi agama sangat mudah ditemukan di media sosial. Masyarakat kita banyak yang tidak memiliki filter dalam mencerna materi-materi dari medsos. Maka tugas ulama untuk meluruskan dan mengingatkan masyarakat agar tidak cepat menforward informasi yang didapat dari medsos,” ujar Sekretaris MUI Kota Tangsel ini.

Ulama harus terdepan menangani kasus moral yang terjadi dimasyarakat. Perkembangan teknologi juga harus diperhatikan ulama dalam menunjang aktivitas dakwahnya. “Ulama harus memiliki etos kerja dan mampu memberikan pencerahan melalui dakwahnya. Sehingga setiap permasalahan yang terjadi, ulama memikiki peran andil di dalamnya,” beber Rojak.

Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie  mengatakan tugas ulama  mengedukasi masyarakat agar dapat mencerna mana berita yang layak dipercaya.  “Sekarang ini banyak orang mengaji dari dunia maya, berbeda dengan orangtua kita dulu yang mengaji langsung bertemu dengan guru, sehingga seringkali infomasi yang diterima disalahpahami,” katanya.

Melalui program pendidikan, antara lain seperti yang telah dilakukan oleh madrasah-madrasah dibawah naungan Kementerian Agama, yaitu pelajaran kitab kuning di sekolah umum.

“Karena saya yakin pendidikan menjadi kunci untuk kemajuan Tangsel. Oleh karenanya kita akan memberikan kontribusi dari APBD untuk pendidikan karakter melalui pembelajaran dari kitab aslinya,” tukasnya.(bono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here