Connect with us

Pendidikan

Mochtar Riady Minta Wisudawan Utamakan Moral di Era industri 4.0

Published

on

Pendiri Universitas Pelita Harapan (UPH), Mochtar Riady berpidato di hadapan ratusan wisudawan di Grand Chapel UPH, Lippo Karawaci Village, Sabtu (24/11/2018).

TANGERANG, MO – Dunia Industri Indonesia kedatangan tamu baru. Sebanyak 896 mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) dikukuhkan sebagai sarjana, Sabtu (24/11/2018). Mereka diklaim siap mewarnai dunia Industri 4.0 dalam negeri.

UPH melantik ratusan sarjana beragam jenjang pagi ini. Para lulusan kampus milik Lippo group ini diminta tanggap terhadap perkembangan Industri. Pendiri UPH, Mochtar Riady menuturkan, Industri 4.0 menitikberatkan teknologi sebagai media berkreasi.

Digitalisasi ekonomi, disebut Mochtar, menuntut pelaku industri cakap menggunakan teknologi. Dia meyakini, pihaknya telah membekali mahasiswa dengan baik. Kampusnya, sambung Mochtar,  telah  menggalang kerjasama dengan industri, serta mengembangkan bahan ajar berbasis teknologi.

“UPH sudah membekali para lulusannya untuk memasuki era industri 4.0 melalui bahan pembelajaran dan kerjasama dengan industri,” katanya.

Namun yang terpenting, lanjut Mochtar, pengetahuan serta keterampilan mahasiswa adalah pemanfaatan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat.

“Kalian akan masuk masyarakat, yang pertama dipikirkan adalah moral. Kalau dididik terampil tapi digunakan untuk kejahatan itu buruk,” ujarnya.

Pembekalan mahasiswa UPH menghadapi era industri 4.0 terbilang serius. Rektor UPH, Jonathan L. Parapak mengaku pihaknya mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang pendidikan, di antaranya melalui pelatihan oleh tim edutech internal dan juga dengan pakar dari luar.

Seperti halnya yang dilakukan baru-baru ini dengan mengundang Prof. Dr. Paulina Pannen, M.Ls.Staf Ahli Bidang Akademik Kementerian Ristekdikti, memberikan ceramah seputar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dan E-Learning serta kebijakan Pendidikan Tinggi Era Revolusi industri 4.0, yang diadakan pada 12 November 2018.

Hadir dalam wisuda kali ini Kapolda Bali, Irjen Petrus Reinhard Golose. Pengamat Cyber Crime Polri ini menuturkan, pembekalan teknologi informasi dalam kaitannya dengan industri penting dilakukan lembaga pendidikan.

“Kalau kita melihat, era (industri) 4.0 itu artinya peralihan dari konvensional ke digitalisasi. Akan muncul hal-hal positif dan negatif. Penting kiranya lembaga pendidikan mengarahkan mahasiswanya untuk menguasai teknologi informasi itu untuk perkembangan manusia,” tukasnya. (fi)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pendidikan

Gerobak Baca Tunjang Literasi Siswa

Published

on

TANGERANG, MO – Terus berupaya agar budaya literasi siswa di sekolah meningkat. SDN Tanah Tinggi 1, sejauh ini telah menerapkan membaca 15 menit sebelum masuk sekolah. Setiap Jumat, perwakilan siswa diminta untuk menceritakan buku yang ia baca.

Tak puas sampai disitu, kini SD yang berada di Jalan Daan Mogot itu berinovasi membuat gerobak baca yang bisa menampung sebanyak 100 buku bacaan.

“Setiap hari, gerobak mengelilingi kelas-kelas yang ada, gerobak sengaja di cat cerah untuk menarik perhatian siswa,” kata Kepala SDN Tanah Tinggi 1, Yeti Sulistyawati, Rabu (18/9/2019).

Ke depan, SDN Tanah Tinggi 1, akan terus membuat program yang meningkatkan gairah membaca siswa.

“Ini dilakukan agar anak mengalami pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus merangsang imajinasi,” ungkapnya.

Selain 15 menit sebelum jam masuk sekolah, jam membaca juga diperkuat setiap Sabtu.

“Dulu, siswa menerangkan apa yang ia baca hanya hari Jumat, sekarang ditambah satu hari yakni Senin setelah upacara bendera,” pungkasnya.(bono)

Continue Reading

Pendidikan

Walikota : Tanamkan Pendidikan Terbaik Sejak Dini

Published

on

TANGERANG, MO – Wali Kota Tangerang H. Arief R. Wismansyah didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Hj. Masyati Yulia menghadiri Workshop Peningkatan Kompetensi Pendidik Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tahun 2019 yang diselenggarakan di Gedung MUI Kota Tangerang, Selasa (20/08).

Usia 0-5 tahun merupakan masa keemasan bagi anak, oleh karenanya Walikota meminta kepada seluruh guru PAUD untuk lebih aktif mencari tahu metode yang tepat dalam memberikan pengajaran.

“Pada usia itu anak akan belajar lebih cepat dibandingkan dengan tahap usia selanjutnya,” ungkap Walikota.

“Ini menjadi tantangan untuk guru PAUD yang ada di Kota Tangerang agar mampu menanamkan nilai yang positif dan berakhlakul karimah kepada anak,” ujarnya.

“Contoh berikan tugas yang melibatkan orang tua. Seperti, kasih tugas makan bareng keluarga terus difoto,” sambungnya.

Kegiatan yang mengusung tema “Upaya Meningkatkan Pengetahuan, Kemampuan dan Keterampilan Pendidik PAUD Berkarakter Akhlakul Karimah” tersebut, diharapkan memunculkan inovasi-inovasi baru dalam mendidik anak.

“Pokonya kita disini sama-sama belajar, anak-anak generasi saat ini yang akan meneruskan masa depan Kota Tangerang. Oleh karena itu, perlu ada pendidikan bagi guru yang berperan juga sebagai orang tua,” papar Walikota.

Melalui kegiatan tersebut diharapkan seluruh guru PAUD dapat berupaya mempersiapkan anak yang tangguh dan siap mencapai cita-citanya di masa depan.

“Terus tanamkan pendidikan terbaik agar anak-anak kita siap menjadi generasi penerus dan pemimpin yang membawa kebaikan dan kemajuan untuk kota ini,” tutup Arief.(bono)

Continue Reading

Kota Tangerang

Begini Pola Pendampingan Program Tangerang Cerdas Center

Published

on

TANGERANG, MO – Upaya Pemkot Tangerang dalam meningkatkan mutu pendidikan dan menekan angka putus sekolah, diimplementasikan dalam Tangerang Cerdas Center (TCC).

Strategi pendampingan Anak Putus Sekolah (APS) dan Anak Rentan Putus Sekolah (ARPS) pun dilakukan.

Sekretaris Dinas Pendidikan Jamaludin, mengatakan, terdapat enam pendekatan yang akan dilakukan kepada APS dan APRS dalam program TCC.

“Pertama, pendekatan teknis yakni dengan menggunakan teknik studi kunjung ke rumah APS dan ARPS, secara berkelanjutan untuk memberikan motivasi dan bimbingan belajar,” ujar Jamaludin.

Kedua, pendekatan wisata edukatif dengan metode pembelajaran outdoor yang bertujuan meningkatkan motivasi dan bimbingan belajar.

Kemudian pendekatan ketiga, mahasiswa melakukan mediasi dan motivasi belajar kepada APS dan ARPS.

“Yakni mahasiswa menjadi mediator APS- ARPS ke pihak sekolah untuk meningkatkan motivasi belajar,” ujar dia.

Selanjutnya, mahasiswa melakukan pendekatan religi dengan mengajak APS dan ARPS ke Pondok Pesantren yang mengadakan kewirausahaan.

Lalu, mahasiswa juga melakukan pendekatan sehat bugar dengan mengajak kegiatan outbound guna meningkatkan adrenalin positif.

“Terakhir pendekatan melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang dimiliki oleh DP3AP2KB,” ungkapnya.(bono)

Continue Reading

Trending