Connect with us

Kota Tangerang

Formalisme Sepakbola Zaman Now Versus Realisme Gol

Published

on

Ilustrasi gol dalam sepakbola. (Ist)

OPINI,MO – Patut diduga bahwa sistem sepakbola zaman now sangat dipengaruhi oleh—atau bahkan merupakan penerapan terhadap—logika formal Aristoteles. Faktor penyebabnya adalah fakta historis bahwa sepakbola tumbuh, berkembang pesat dan menjadi sangat populer di Barat dan hal ini berlangsung bersamaan dengan kuatnya pengaruh Aristotelianisme terhadap cara pandang Barat terhadap segala sesuatu.

Contoh paling gamblang dari kuatnya pengaruh logika formal Aristoteles terlihat jelas di dalam cara Barat memahami dan menggunakan kata maupun cara mereka merumuskan sistem pertandingan sepakbola.

Di Barat, ada kecenderungan untuk memahami kata sebagai mewakili pikiran. Penerapan logika formal Aristoteles dalam bahasa telah membuat susunan kata di dalam kalimat menjadi lebih penting daripada isi kalimat yang berkaitan langsung dengan realitas. Dengan istilah lain, kata maupun kalimat bukan merupakan—atau tidak diperlakukan sebagai—sebuah gambar mengenai realitas (as a picture of reality). Hukum-hukum dalam pikiran bukan hanya menguasai bahasa maupun semester pembicaraan, namun juga mendikte realitas. Karena itu, universalitas, aksiomatika, putusan a priori dan prinsip-prinsip sering diterapkan secara tidak adil terhadap fakta dan realitas. Artinya, fakta dan realitas sering dikalahkan atau bahkan dikorbankan oleh akal pikiran.

Penerapan logika formal Arsitoteles dalam sistem pertandingan sepakbola zaman now menggejala melalui perlakuan tidak adil terhadap kedudukan maupun fungsi gol yang hanya menjadi epifenomena (gejala samping) bagi makna kemepangan pada setiap pertandingan. Karena itu, kemenangan suatu tim sepakbola hanya mengandung arti sebagai kemenangan pada setiap pertandingan. Gol bukan merupakan penentu sejati (genuine determinant) bagi kemenangan. Gol bukan pula merupakan tujuan akhir (ultimate end) bagi setiap tim sepakbola. Akibatnya, muncul sebuah paradoks dimana tim sepakbola yang kurang produktif dalam mencetak gol dapat keluar sebagai pemenang. Sebaliknya, tim sepakbola yang produktif justru malah tersingkir.

Sistem Pertandingan Sepakbola Formalistik

Persoalannya, mengapa sampai terjadi paradoks semacam itu? Penyebabnya adalah penerapan logika formal Aristoteles terhadap makna kemenangan sebuah tim sepakbola pada setiap pertandingan dimana gol hanya berperan sebagai epifenomena. Artinya, jika tim sepakbola Anda—dalam babak fase grup yang terdiri dari empat kesebelasan—berhasil memenangkan dua pertandingan dengan skor masing-masing 1-0 dan kalah pada pertandingan ketiga dengan skor telak 0-6, tim sepakbola Anda dapat lolos ke putaran berikutnya selagi belum ada tim lain dengan selisih gol yang lebih baik. Lolos ke putaran berikutnya dengan hanya mencetak dua gola di dua pertandingan dan kalah telak dengan skor 0-6 jelas menunjukkan ciri formalistik dari sistem pertandingan sepakbola yang diterapkan. Sekali lagi, gol tidak menjadi tujuan tertinggi (ultimate end) dan bukan merupakan faktor penentu kemenangan dalam arti yang sesungguhnya.

Kelemahan-kelemahan yang melekat pada logika formal Aristoteles menjadi kongruen atau setara dengan kelemahan-kelemahan yang ada pada sistem pertandingan sepakbola yang formalistik. Jika ada dua tim sepakbola bertanding dan hasilnya imbang apakah skornya 0-0 atau seberapa pun, maka kedua tim berbagi poin 1. Ada persoalan yang sangat krusial dalam hal ini, yakni bagaimana sebuah pertandingan sepakbola dengan hasil akhir yang negatif dari segi pencetakan gol (skor 0-0) bisa menciptakan hasil positif berupa keberbagian poin 1 bagi kedua tim yang bertanding?

Jika tim sepakbola Anda menang dalam suatu pertandingan, berapapun skornya, tim Anda memperoleh poin 3 sedangkan tim yang kalah memperoleh poin 0. Persoalannya adalah bagaimana kemenangan 1-0 dapat dianggap setara atau diperlakukan sama dengan kemenangan 7-0?

Kemudian jika tim sepakbola Anda menang dengan skor 4-3, poin yang tim Anda peroleh adalah 3 sedangkan tim lawan memperoleh poin 0. Cara perhitungan semacam ini menunjukkan kurangnya apresiasi terhadap gol yang tercipta selama pertandingan, yang berarti pula tindak pengabaian terhadap nilai produktifitas tim sepakbola yang bertanding. Dalam sistem pertandingan sepakbola yang formalistik, kebermaknaan gol hanya diperhitungkan kelak di kemudian hari khususnya ketika poin yang tim Anda peroleh sama dengan poin yang diperoleh tim lain pada babak fase grup.

Sebenarnya FIFA telah berupaya mengkoreksi kelemahan semacam ini dengan memberlakukan kemenangan aggregate pada sistem pertandingan home and away (kandang-tandang). Tetapi langkah yang ditempuh FIFA masih bersifat parsial dan masih jauh dari sifat radikal dan substansial. Buktinya hingga saat ini, FIFA masih tetap menganggap gol sebagai pseudo realitas atau bukan sebagai faktor penentu kemenangan yang sesungguhnya.

Sistem Pertandingan Sepakbola Realistik

Dalam sistem ini, gol menjadi tujuan tertinggi dan faktor yang paling menentukan bagi kemenangan suatu tim sepakbola secara keseluruhan. Gol juga menjadi karakteristik mutlak pembeda tim sepakbola yang produktif yang layak menjadi juara kompetisi dari tim sepakbola yang kurang produktif yang lebih layak untuk menjadi pecundang. Dengan sistem ini, kemenangan suatu tim sepakbola tidak lagi ditentukan di dalam makna kemenangan pada sebuah pertandingan, namun kemenangan dalam arti banyaknya gol yang diciptakan.

Jika suatu pertandingan berakhir imbang dengan skor 0-0, maka kedua tim berbagi poin 0. Tak ada alasan untuk memberi poin 1 bagi kedua tim. Sebab, tak ada gol tercipta dalam pertandingan itu dan secara realistik, angka 0 haruslah diperlakukan sebagai angka 0.

Jika hasil akhir suatu pertandingan sepakbola adalah 1-0, maka tim sepakbola yang menang beroleh poin 1 sedangkan yang kalah harus diganjar dengan poin -1. Demikian seterusnya sehingga pertandingan yang, misalnya, berakhir dengan skor 4-0, maka tim pemenang beroleh poin 4 sedangkan tim yang kalah diganjar dengan poin -4.

Kemudian, jika suatu pertandingan berakhir dengan skor 3-2, tim pemenang beroleh poin positif 3 sedangkan tim yang kalah tetap beroleh poin positif 2. Jika, misalnya, suatu pertandingan berakhir imbang dengan skor 4-4, kedua tim yang bertanding sama-sama memperoleh poin 4. Dengan demikian, setiap satu gol adalah setara dengan satu realitas. Dalam sistem pertandingan sepakbola realistik, hanya realitas gol yang berbicara. Tim yang keluar sebagai juara dalam sebuah kompetisi adalah tim yang paling produktif dan bukan tim tidak produktif yang bersembunyi di balik istilah kemenangan pada setiap pertandingan dengan skor yang tipis.

Dengan perubahan sistem dari sistem pertandingan sepakbola formalistik menjadi sistem pertandingan sepakbola realistik, muncul harapan kuat agar timnas sepakbola kita dapat jauh lebih bersemangat dalam menciptakan gol ke gawang lawan. Diharapkan pula agar para suporter tim sepakbola kita lebih tertarik kepada jumlah gol yang tercipta. Kemudian, lupa terhadap kebiasaan buruk berbuat rusuh dengan tawuran di sana sini. Tetapi, benarkah?

*oleh Zaimul Am. Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah
Tangerang dan Mantan Kiper Porgapda

Kota Tangerang

Kota Tangerang Modernisasi Pengadaan Melalui Probity Advice

Published

on

Workshop modernisasi pengadaan barang dan jasa, Kamis (12/7). (ADI/METAONLINE)

TANGERANG,MO – Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan Pemerintah Kota Tangerang menggelar Workshop Probity Advice dan  Konsolidasi tentang pengadaan barang/ jasa Pemerintah Kota Tangerang di Hotel Aryaduta Lippo Karawaci Kabupaten Tangerang, Kamis (12/7).

Sekretaris Daerah, Dadi Budaeri dalam arahannya bahwa konsolidasi pengadaan  ini untuk memodernisasi pengadaan barang/jasa Pemerintah.

“Konsolidasi pengadaan merupakan salah satu strategi untuk pendekatan tambahan dalam rangka meningkatkan kinerja pengadaan suatu organisasi, dalam rangka memperkenalkan serta mendorong implementasi konsolidasi pengadaan secara luas,” kata Dadi.

Acara tersebut dihadiri oleh Pengguna Anggaran (PA) / Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang, Ketua beserta Kelompok Kerja ULP (Unit Layanan Pengadaan) Kota Tangerang.

Lebih lanjut Dadi berpesan bahwa dalam penyusunan pemaketan pengadaan harus di rinci mulai dari Pra RKA dan RKA harus detil dan rinci.

“saya minta sejak penyusunan dari PRA RKA dan RKA harus rinci,” tutur Dadi

Sementara itu Direktur Advokasi dan Penyelesaian Sanggah Wilayah II LKPP Yulianto Prihandoyo mengatakan LKPP memberikan alternatif dalam mempersiapkan pengadaan, salah satunya adalah melalui konsolidasi pengadaan.

“Semacam satu strategi sistematis dengan melakukan analisis kebutuhan, melihat potensi penyedia dan kemudian memformulasikannya dalam bentuk pemaketan. Dokumen lelang bunyinya apa, syaratnya apa. Kurang lebih seperti itu,” tutur Yulianto.

Ia menambahkan, konsolidasi pengadaan sudah diterapkan di negara maju. Namun pada praktiknya, para pengelola pengadaan seringkali terjebak untuk membuat banyak paket pengadaan. Padahal, semakin banyak paket yang dibuat maka risiko yang dihadapi juga akan semakin bertambah.

“Mari duduk sejenak sebelum menyusun RUP (rencana umum pengadaan). Menganalisis kebutuhan, memotret kekuatan para penyedia. Untuk strategi pengadaannya, mungkin bisa menggunakan lelang itemized, yaitu lelang satu kali untuk beberapa barang sekaligus yang sebidang ataupun sejenis,  agar para penyedia itu tahu apa yang di butuhkan,” lanjutnya.

Hal itu mengingat meningkatnya nilai belanja pemerintah melalui pengadaan, tuntutan transparansi penggunaan anggaran dan belum maksimalnya strategi pengadaan untuk menjawab permasalahan klasik pengadaan. Seperti terlambatnya penyerapan anggaran, kualitas rendah dan harga yang lebih mahal.

Yulianto juga menyampaikan bahwa Probity Advice adalah untuk meningkatkan integritas pelayanan publik atas pengadaan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Ia juga menyampaikan ada 7 kriteria pekerjaan yang perlu dilakukan Probity Advice. Diantaranya adalah pekerjaan yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat luas dan pekerjaan untuk memenuhi pelayanan dasar manusia, serta tahapan Probity Advice itu sendiri dan tanggung jawab/wewenang Advisor.

“Perlu menjadi catatan tidak semua paket pekerjaan dapat/layak diprobity,” tutupnya.

ADI DARMA

Continue Reading

Kota Tangerang

DPRD Kota Tangerang Minta PPDB Jalur Zonasi Ditingkatkan

Published

on

Anggota DPRD Kota Tangerang Turidi minta kuota zonasi PPDB ditambah. (CANDRA/METAONLINE)

TANGERANG, MO – Ketua Komisi IV DPRD Kota Tangerang, Turidi Susanto, meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mengkaji ulang Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di jalur zonasi. Ia juga mempertanyakan tujuan sebenarnya jalur zonasi yang kerap kali menimbulkan polemik di masyarakat.

“Sistem jalur zonasi dinaikan ke tingkat RW, dan saya berharap permasalahan ini sudah menjadi evaluasi Pemda. Zonasi harusnya di level RW dan Kelurahan tetapi tetap pointnya 4 ditingkat RW, 3 point ditingkat RT dan 2 point ditingkat Kelurahan,” ujar dia.

Hal itu berdasarkan suara dan laporan dari masyarakat beberapa waktu lalu. Terlebih warga RW 04 Kelurahan Panunggangan Barat, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang menggelar aksi demonstrasi di SMPN 23.

Demonstrasi tersebut dilakukan atas dasar beberapa siswa dan siswi warga RT 04 tidak dapat masuk ke SMPN 23. Pasalnya dalam sistem jalur zonasi RT 04 letaknya sangat berdekatan dengan sekolah tersebut.

“Kalau saya pada dasarnya, cukup menyayangkan karena sekolah itu kan dibangun di wilayah mereka, di Kelurahan mereka. Jadi kalau mereka hadir ditengah-tengah situ wajarlah kalo warga situ diterima,” ungkap dia.

“Tujuan zonasi apa sih, kalau bukan salah satunya mengurangi kemacetan saat penerimaan siswa baru. Kalau pun beda RW kan sama-sama dekat sekolah, tetapi kenapa RT 04 itu nuntut ya karena RT 04 sangat berdekatan dengan sekolah tetapi anak mereka malah tidak bisa masuk,” imbuh Turidi, Jumat (6/7).

PPDB jalur zonasi diatur dalam pasal 12 Permendikbud nomor 14 tahun 2018, tentang penerimaan peserta didik baru TK, SD, SMP, SMA dan SMK sederajat. Menyebutkan untuk seleksi calon peserta didik baru kelas 7 SMP atau bentuk lain yang sederajat mempertimbangkan kriteria dengan urutan prioritas sesuai dengan daya tampung berdasarkan ketentuan rombongan belajar sebagai berikut:

Pertama, jarak tempat tinggal ke Sekolah sesuai dengan ketentuan zonasi, kedua nilai hasil ujian SD atau bentuk lain yang sederajat, dan ketiga prestasi di bidang akademik dan non-akademik yang diakui Sekolah sesuai dengan kewenangan daerah masing-masing.

“Harusnya ini menjadi PR Pemda menganalisa hingga menyeluruh dan tajam kaitannya dengan pelebaran zonasi. Harusnya jangan per RT tapi per RW, jadi 1 RW pointnya 4, RT point 3, dan point 2 beda Kelurahan,” tegas dia.

Sebab, sistim jalur zonasi saat ini dirasa pihaknya sangat tidak berimbang antara letak sekolah dengan ketentuan skor bagi siswa yang hanya mengandalkan domisili di RT atau RW. Ketidak berimbangan penilaian skor dalam proses penerimaan siswa ini kerap kali menjadi permasalahan di masyarakat.

Pasalnya, warga di satu RT tidak dapat memasukan anak mereka di sekolah yang berdekatan dengan tempat tinggalnya. Jika RT dan domisili mereka berbeda Kelurahan.

“Yang disayangkan adalah hasil dari yang dilakukan sistem RT dan RW ini. Ketika satu sekolahan walaupun berdempetan dengan dinding sekolahan, kalau dia beda RW dia harus bersaing dengan 4 kecamatan lain,” jelas dia.

CANDRA IRAWAN

Continue Reading

Komunitas

Ekspresi Seniman Jalanan Bakal Digelar di Tangerang

Published

on

Ekspresi seniman jalanan Tangerang. (Ist)

TANGERANG,MO – Ratusan komunitas seniman jalanan se-Tangerang bakal menggelar Ekspresi Seniman Jalanan. Hajat ini dilaksanakan atas kerja sama Kemendikbud dengan Yayasan Semangat Berbagi.

Kegiatan yang bakal digelar selama dua hari yaitu dimulai dari hari Jumat 6 hingga 7 Juli 2018.

Ekspresi Seniman Jalanan Tangerang mengambil Lokasi di Sekretariat Semanggi Center Cikokol di Jalan Perintis Kemerdekaan Cikokol Kota Tangerang.

Mukafi Solihin yang akrab disapa Lord Miing selaku Direktur Semanggi Center Cikokol mengungkapkan, acara ini akan melibatkan 100 peserta yang terdiri dari berbagai komunitas seniman jalanan.

“Kita melibatkan 100 peserta dari berbagai komunitas seniman dengan berbagai keahliannya dibidang seni. Semuanya akan beraksi untuk mengekspresikan diri dengan penuh kebebasan,” terangnya.

Menurut dia, kegiatan Ekspresi Seniman Jalanan bakal diisi dengan berbagai pagelaran, diantaranya ada berupa workshop, live performance dan live painting.

“Workshop ini bakal diisi dengan kegiatan membuat stainsil bersama Budi Party, bermain tehyan bersama Mpe Go Yong untuk live performance bakal menghadirkan artis top jalanan seperti Anjar Oxs, Bizzink, Samsaka serta belasan artis top hebat lainnya, sedangkan live painting akan diisi oleh Unoz, Orbs, Shano dan Palang Pintu Syndicate,” jelas Lord Miing

Selain sebagai momen aksi panggung bersama oleh sesama seniman jalanan, ini juga sebagai momen bersilaturahmi bersama.

“Seniman yang hadir memiliki latar belakang keahlian yang berbeda dan di momen inilah kita kumpul bersama dengan ekspresi yang berbeda untuk kebahagian bersama,” tukasnya.

ADI DARMA

Continue Reading

Trending