Connect with us

Hukum Kriminal

Diciduk KPK Malah Beri Salam Metal

Published

on

metaonline.id
Tasdi, Bupati Purbalingga, Jawa Tengah saat diciduk KPK.(istimewa)

METAONLINE,- Lima orang tersangka yang telah ditetapkan KPK dalam kasus suap proyek pembangunan Purbalingga Islamic Centre. Salah satunya Tasdi, Bupati Purbalingga, Jawa Tengah.

“Mereka langsung ditahan,” kata Ketua KPK, Agus Rahardjo, semalam.

Tasdi betul-betul tak tau malu. Diciduk dalam operasi tangkap tangan KPK, kader PDIP itu bukannya malu dan menundukkan muka, malah berkali-kali memberi salam metal dengan gagahnya.

Selain Tasdi, Hadi Iswanto, Kepala Bagian Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Sementara tersangka pemberi suap adalah Librata Nababan, Hamdani Kosen, dan Ardirawinata Nababan.

Berdasarkan pemeriksaan lanjutan yang dilakukan usai operasi tangkap tangan, KPK menemukan bukti Tasdi dan Hadi menerima suap Rp100 juta dari total Rp500 juta yang dijanjikan rekanan proyek pembangunan Purbalingga Islamic Centre.

“Commitment fee yang dijanjikan adalah 2,5 persen dari total anggaran proyek,” sebut Agus.

Proyek pembangunan Purbalingga Islamic Center dibiayai anggaran daerah tahun 2017 sampai 2019. Pada tahun anggaran 2017, dana yang dialokasikan Rp12 miliar. Tahun 2018 Rp22 miliar, dan tahun 2019 sebesar Rp43 miliar.

“Total anggarannya Rp79 miliar,” kata Agus. Terhadap tersangka Tasdi dan Hadi dikenakan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang Undang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Sementara, tiga tersangka pemberi suap djerat dengan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

“Kita masih proses lebih dalam lagi siapa pihak lain yang diduga terlibat suap-menyuap dalam pelaksanaan proyek tersebut,” kata Agus. (Sir/bbs)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum Kriminal

Polresta Tangerang Ungkap Identitas Mayat Hanyut

Published

on

Ilustrasi Mayat. (net)

TANGERANG, MO – Identitas jasad seorang pria yang mengambang di Kali Cadas Kukun, Kampung Pangodokan Cemara, Kelurahan Kuta Bumi, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang mulai terkuak.

Jasad yang pertama kali ditemukan oleh seorang karyawan pabrik pada Rabu (7/11/18) itu adalah Jap Son Tauw (68), warga Klaster Semara Village, Gading Serpong, Tangerang Selatan. Korban juga merupakan pengemudi transportasi taksi online.

Kapolres Kota Tangerang Kombes Sabilul Alif mengatakan, terungkapnya identitas korban berkat usaha polisi menyebarkan informasi penemuan mayat itu termasuk ke media sosial. Untuk mengetahui identitas korban, kata Sabilul, kepolisian menyebarkan di media sosial facebook berupa foto dan ciri-ciri korban.

“Beberapa jam usai membuat postingan, sekitar jam 9 malam, keluarga korban atas nama Hedrison menghubungi kami dan mengonfirmasi bahwa ia adalah keluarga korban,” kata Sabilul, Kamis (8/11/2018).

Dikatakan Sabilul, keluarga korban bersama polisi kemudian datang ke RSUD Tangerang untuk memastikan jenazah korban. Setelah melihat jenazah secara langsung, kata Sabilul, Hedrison memastikan bahwa korban adalah ayahandanya.

Sabilul menerangkan, usai mendapat informasi dari keluarga korban, polisi langsung melakukan pendalaman. Polisi, kata Sabilul, berhasil menemukan mobil korban di wilayah Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang. Di dalam mobil korban, lanjutnya, ditemukan sebilah pisau dan bercak darah.

“Korban mengalami luka sayat di leher dengan wajah yang lebam. Tangan dan kaki korban juga terikat tali dengan pemberat,” terangnya.

Sabilul menyampaikan, ada indikasi kuat korban merupakan korban pembunuhan. Kata Sabilul, polisi memastikan akan mengungkap segala kemungkinan termasuk kemungkinan pembunuhan berencana bermotif dendam atau perampokan dalam waktu dekat.

“Kami terus melakukan penyelidikan dan dalam waktu dekat kami akan ungkap kasus ini,” tandasnya. (fi)

Continue Reading

Hukum Kriminal

Reformasi Birokrasi Belum Berjalan Efektif

Published

on

By

metaonline.id
Wakil Koordinator ICW, Ade Irawan. (istimewa)

METAONLINE,- Banyaknya Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tersangkut kasus korupsi, perlu mendapat perhatian serius. Hal itu menandakan reformasi birokrasi belum berjalan efektif.

Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), Ade Irawan menyebutkan, banyak kasus korupsi yang melibatkan ASN.

“Kalau lihat rata-rata kasus di Indonesia ada 500-an kasus, bisa lebih dan kurang. Jumlah tersangka rata-rata 1.200 orang. Kalau dilihat siapa yang paling banyak ditangkap aparat penegak hukum dan ASN,” ujarnya di Jakarta.

Kondisi ini terbilang miris lantaran ASN merupakan mesin penggerak roda pemerintahan. Apalagi, masalah utama birokrasi justru berada pada struktur teratas.

Selama ini yang banyak disasar dari reformasi birokrasi adalah birokrasinya. Sementara atasan, terutama para politisi tidak terlalu jadi fokus perhatian.

Menurut Ade, masalah utama di birokrasi adalah atasannya. Misalnya, birokrasi kepada atasan, loyalitas pada atasan. Kasus korupsi yang biasa terjadi dalam birokrasi, adalah autogenic corruption dan korupsi sistemik atau korupsi berjemaah. Mereka menempatkan birokrasi sebagai eksekutor untuk melakukan praktik korupsi.

Jika dilihat dari banyaknya kasus yang terjadi saat ini, termasuk yang ditangani KPK, praktik korupsi diawali sedari pengambilan keputusan di tingkat perencanaan anggaran.

“Rencana korupsi ‘kan dimulai dari situ. Lalu siapa yang eksekusi? Birokrasi,” sebutnya.

Perencanaan memberikan celah bagi korupsi dalam pengelolaan APBD kemudian di SKPD menindaklanjuti mengadakan manipulasi dengan pengadaan barang-barang dan jasa. “Tapi di ujung kemudian yang kena pertama birokrasi,” imbuhnya. (Sir/bbs/net)

Continue Reading

Banten Raya

Politisi Muda PKB Ajak Generasi Milenial Bijak Gunakan Medsos

Published

on

Wakil Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Gemasaba Banten, Yanuar Prastyo, Kamis (4/10/2018).

SERANG, MO – Kasus kebohongan Ratna Sarumpaet yang hampir saja memecah belah bangsa Indonesia patut dijadikan pelajaran berharga bagi generasi muda, khususnya kaum milenial untuk berhati-hati dan lebih bijak menggunakan media sosial (medsos).

“Mari kita lebih bijak bermedsos agar kita tidak menjadi korban ataupun perangkap orang lain yang memang ingin memanfaatkan kita untuk memecah belah bangsa. Kasus Ibu Ratna mesti kita jadikan contoh buruk,” ujar Wakil Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Gemasaba Banten, Yanuar Prastyo, Kamis (4/10/2018).

Menurut Yanuar, belajar dari kasus tersebut sebaiknya setiap foto, video, berita maupun informasi bentuk lainnya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya tidak langsung dipercaya ataupun dishare.

“Cek dan ricek menjadi penting agar kita tidak menjadi korban. Kalaupun kita ragu dengan isi berita yang ditampilkan lebih baik tidak ikut mempercayai atau menshare,” ujarnya.

Yanuar meminta semua generasi muda di Kota Tangerang lebih bijak dan cerdas menyikapi setiap berita yang berseliweran di medsos.

“Saya yakin generasi milenial Kota Tangerang tidak mau masuk perangkap, tidak ingin menjadi penyumbang kehancuran bangsa, tidak ingin menjadi korban permainan elite politik yang tidak beretika,” katanya.

Calon Anggota Legislatif (Caleg) Dapil V Kota Tangerang itu mengingatkan bahwa menggunakan medsos tujuannya untuk eksis diri dan sebagai pembentukan citra diri. Bukan citra orang lain.

“Bohong bila post di medsos tujuannya tidak ingin eksis. Karena di medsos sarana publik untuk mengenal banyak orang sehingga seluruh orang tau tentang kita. Tapi kita tidak boleh terjebak permainan orang lain,” tandas Yanuar. (fi)

Continue Reading

Trending