Connect with us

Olahraga

Austria vs Jerman, Neuer Siap

Published

on

metaonline.id
Manuel Neuer. (istimewa)

METAONLINE,- Timnas Jerman sudah hampir sepekan berlatih di kawasan Tyrol, Austria, dalam persiapan melakoni laga pembuka Grup F Piala Dunia 2018 melawan Meksiko pada 17 Juni mendatang.

Untuk uji coba ini, anak asuh Joachim Low itu bakal kembali diperkuat Manuel Neuer. Kiper Bayern Munchen itu dinyatakan fit dan telah sepenuhnya pulih dari cedera.

“Hingga saat ini, Manuel (Neuer) dipastikan bermain pada laga Sabtu melawan timnas Austria. Itu pertandingan yang diperlukannya,” ujar pelatih kiper timnas Jerman, Andreas Kopke.

Dan nanti malam Jerman akan melawat ke Austria pada ujicoba di Klagenfurt. Pertandingan ini merupakan bagian persiapan tim panser untuk mempertahankan gelar Piala Dunia di Rusia.

Di tengah persiapan, kabar kurang mengenakkan datang dari Mesut Ozil. Pelatih timnas Jerman, Joachim Loew, dikabarkan tidak senang akan ketidakseriusan pemain keturunan Turki itu saat latihan.

Ozil absen pada laga pamungkas Arsenal di Liga Inggris musim 2017-2018 akibat cedera punggung. Namun, pemain 29 tahun ini tetap digadang-gadang menjadi sosok penting di skuad Jerman pada Piala Dunia 2018 di Rusia.

Dua ujicoba akan dilakoni Jerman sebelum terbang ke Rusia. Selain menghadapi Austria, Tim Panser kemudian dijadwalkan akan melakukan partai uji coba terakhir dengan menghadapi Arab Saudi pada Sabtu (9/6).

“Kami mengharapkan dia untuk berlatih dengan keras di lapangan latihan untuk menambah ketahanannya. Tapi Mesut selalu mendapatkan perawatan. Dia tidak benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan,” kata Asisten pelatih Jerman, Thomas Schneider dilansir dari Metro.

Ozil belum merumput lagi sejak pekan-pekan awal Mei seiring penampilan buruknya di semifinal Liga Europa melawan Atletico Madrid. (Sir/bbs)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasional

Messi dan Kutukan Argentina

Published

on

Messi usai gagal memasukan bola saat menendang pinalti. (Ist)

OPINI,MO – Antara menit ke 60 dan 63. Saat Argentina melawan Islandia pada fase grup Piala Dunia 2018. Para pendukung Argentina harap-harap cemas. Messi meletakkan bola di titik putih di dalam kotak penalti. Sekilas dia menatap ke arah gawang Islandia. Kiper Islandia, Hannes Halldorsson, telah bersiap. Tak lama berselang, Messi menendang bola ke arah kiri gawang. Tetapi tendangannya lemah. Bola bergerak cukup lamban sehingga kiper Islandia dapat mengantisipasinya. Messi gagal. Dia tampak sangat kecewa. Begitu pula para supporter Argentina.

Ada cukup banyak analisis mengenai kegagalan Messi. Analisis ini telah memecah para pengamat sepakbola ke dalam dua bongkahan besar. Pertama, kaum literalis sepakbola, yakni mereka yang memandang sepakbola dari perspektif strategi, taktik dan fenomena kasat mata pada setiap pertandingan sepakbola. Kedua, kaum hermeneutik sepakbola, yakni mereka yang berupaya menafsirkan fenomena pertandingan dengan menggunakan bahan-bahan “eksternal-spiritual.”

Analisis Kaum Literalis Sepakbola

Ketika Messi gagal mengeksekusi penalti ke gawang Islandia, kaum literalis membuka file historis yang berkaitan dengan berbagai pertandingan sebelumnya, baik yang melibatkan Messi maupun tidak. Ada beberapa data yang diperoleh.

Pertama, statistik keberhasilan Messi dalam tendangan penalti. Pada Coppa Amerika, Messi gagal mengeksekusi penalti dan akibatnya Argentina gagal meraih tropi. Kesebelasan Chili yang menjadi juaranya. Secara statistik, Messi sudah tiga kali gagal mengeksekusi penallti bersama Argentina (Ini belum termasuk babak adu penalti). Jumlah-jambleh, tingkat kegagalan Messi dalam mengeksekusi penalti sudah mencapai 57% atau sudah melampaui ambang batas kegagalan yang bisa ditoleransi (over legal-failure-limit).

Kedua, Messi ternyata lebih sering gagal dalam membela Argentina dibandingkan ketika membela Barcelona. Mengapa? Di Barcelona, Messi memiliki dukungan sangat penting dari para pemain tengah yang tangguh, seperti Xavi dan Iniesta. Tetapi dukungan seperti ini tak diperolehnya dari para pemain tengah seperti Teves, Aguero dan Higuain.

Ketiga, ada kemungkinan Hannes Halldorsson, kiper Islandia, sudah membaca pikiran Messi sehingga dia dapat sigap dalam mengantisipasi arah bola. Seperti yang dilansir SkySport, Halldorsson mengaku telah melaksanakan cukup banyak riset tentang Messi. Halldorsson berkata, “Saya melakukan ini karena saya tahu bahwa situasi seperti ini mungkin saja terjadi.” Halldorsson juga mengungkapkan dirinya memang mencoba untuk masuk ke dalam pikiran Messi, “Saya coba masuk ke dalam pikirannya agar dia juga berpikir tentang saya. Hari ini, saya punya perasaan bagus untuk mengantisipasi tendangannya,” kata Halldorsson.

Analisis Kaum Hermeneutik Sepakbola

Kaum hermeneutik sepakbola berpendapat bahwa perspektif kaum literalis sepakbola sebagai ngawur dan keliru. Menurut mereka, secara umum ada dua faktor penyebab kekeliruan kaum literalis sepakbola. Pertama, mereka adalah orang-orang yang rabun jauh (miopik). Kedua, persepakbolaan dunia telah mengkonstruksi leksikon dan diskursus untuk menjelaskan ihwal dirinya sendiri dan sistem tafsir tertutup ini telah mematahkan berbagai tafsir alternatif lainnya. Messi dan Argentina diramalkan tidak akan menang dalam kompetisi apapun dan faktor penyebabnya justru tidak ada hubungannya dengan sepakbola itu sendiri.

Kaum hermeneutik sepakbola yakin bahwa ada faktor utama ketidakmungkinan Argentina menjadi juara piala dunia setelah 1986, yakni faktor Kutukan Argentina yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan strategi atau taktik apapun yang diterapkan oleh tim sepakbola Argentina. Sekurang-kurangnya memang ada tiga versi ihwal Kutukan Argentina.
Pertama, Kutukan Argentina bermula dari janji pelatih Bilardo menjelang Piala Dunia 1986. Bilardo mengajak skuadnya—kecuali Maradona yang tidak ikut—berkunjung ke Tilcara, sebuah kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 4000 orang. Di Tilcara, tepatnya di dalam The Virgin of Copacabana of the Abra of Punta del Corral, Bilardo bersimpuh, berdoa dan berjanji bahwa jika ada kemukjizatan dan skuad Argentina berhasil menjadi juara Piala Dunia di Meksiko, dia akan datang kembali ke Tilcara. Ada dua orang saksi bagi janji legendaris ini, David Gordillo dan Sara Vera, seorang penduduk Tilcara. Masalahnya, setelah menang, skuad Bilardo tidak pernah kembali ke Salta maupun ke Tilcara untuk berterimakasih kepada the Virgin of Tilcara. Gordillo tidak yakin terhadap Kutukan the Virgin of Tilcara. Tetapi Sara Vera, saat diwawancarai oleh El-Tribuno pada 2014 menjelang perhelatan Piala Dunia di Brasil, menyatakan bahwa dia dan banyak penduduk Tilcara lainnya yakin bahwa Argentina tidak akan pernah menjadi juara Piala Dunia lagi kecuali jika skuad Argentina datang kembali ke Tilcara untuk menepati janji. Sedangkan Bilardo, sang pelatih, membantah pernah mengucapkan janji semacam itu. Karena itulah, dia dan timnya tidak pernah kembali ke Tilcara.

Kedua, ada Maldicion del Patito Feo (Kutukan Itik Buruk Rupa). Kutukan ini muncul lantaran rilis pertunjukan singkat Patito Feo (Itik Buruk rupa) oleh TV Argentina. Patito Feo adalah kisah buruk yang dapat membawa akibat buruk bagi pemirsanya. Di penjara Cina, misalnya, para akitifis hak tani dipaksa menonton atau membaca skrip keseluruhan episode Patito Feo hingga otak mereka meleleh melalui hidung mereka. Sebagian besar dari mereka bahkan bunuh diri sebelum pertunjukan usai. Dunia tidak pernah memaafkan Argentina atas rilis monster ini. Karena itu, Messi dan Argentina tidak akan keluar sebagai pemenang. Bukan lantaran pemain, taktik atau nasib buruk. Tetapi akibat Maldicion del Patito Feo (Kutukan Itik Buruk Rupa).

Ketiga, ada kutukan Tata Martino. Yang disebut terakhir ini adalah pelatih yang pernah menangani skuad Argentina maupun Barcelona. Messi pernah berada di bawah asuhan Martino di skuad Argentina dan Barcelona. Bersama Martino, skuad Argentina dua kali mencapai final Coppa Amerika namun dua kali pula gagal menjadi juara karena dua kali dikalahkan oleh Chili. Selain itu, semasa kepemimpinan Martino sebagai pelatih skuad Barcelona, Messi gagal di banyak turnamen dan hanya sukses di Supercopa de Espana setelah mengalahkan skuad Atletico Madrid. Messi dan Barca kalah pada final Divisi Primer Spanyol dari skuad Rojiblancos. Barcelona bersama Messi juga gagal di final Copa del Rey karena dikalahkan Real Madrid. Bukan itu saja, di semifinal Piala Champion pun Messi dan Barca takluk oleh Atletico Madrid. Kaum hermeneutik sepakbola tampaknya kemudian menggeneralisasi Kutukan Martino ini secara lebih universal sehingga mencakup kegagalan Messi mengeksekusi tendangan penalti ke gawang Islandia dan ketidakmungkinan atau bahkan kemustahilan skuad Argentina bisa keluar sebagai juara di Piala Dunia Rusia 2018 ini.

Tetapi, by the way, skuad sepakbola kita ternyata jauh lebih buruk dibandingkan dengan skuad Argentina. Kita tidak pernah lolos dalam babak kualifikasi Piala Dunia. Selain itu, supporter sepakbola kita sering menimbulkan kerusuhan nyaris di mana saja dan kapan saja. Jika mau dikaitkan dengan kutukan, tentu kutukan terhadap skuad sepakbola kita jauh lebih dahsyat jika dibandingkan dengan Kutukan Argentina. Kira-kira kutukan apa ya? Kutukan Nyi Loro Kidul, tah?

Penulis:

Zaimul Am (Dosen UMT Tangerang)

Continue Reading

Olahraga

Kontrak Habis di Selangor FA

Published

on

By

metaonline.id
istimewa

METAONLINE,- Pesepak bola binaan Persebaya Surabaya yang juga gelandang timnas Indonesia Evan Dimas masih belum memikirkan soal karirnya setelah kontraknya habis tahun ini bersama Selangor FA.

Seperti diketahui Evan bersama rekannya Ilham Udin Armaiyn diikat kontrak oleh klub asal Liga Super Malaysia tersebut hanya untuk semusim.

Saat ini kompetisi di Negeri Jiran hampir rampung. Evan belum tahu bagaimana masa depannya bersama Selangor.

“Saya masih pikirkan pertandingan demi pertandingan karena saya belum memikirkan soal karir saya untuk tahun depan,” kata Evan seperti dikutip dari Stadium Astro.

Evan yang baru saja mencetak gol indah untuk Selangor FA ke gawang PKNS FC di Stadion Kuala Lumpur, Cheras, Rabu (6/6), mengaku ingin fokus menyelesaikan kompetisi musim ini terlebih dulu.

”Jika kami berpikir terlalu jauh, kami akan kehilangan fokus yang ada di depan kami. Saya akan memberikan yang terbaik buat tim,” ujarnya.

Sejauh ini Evan turun dalam 15 pertandingan di semua ajang, dengan rincian 11 di Liga Super Malaysia dan empat di Piala FA Malaysia. Dalam jumlah tersebut, dia juga selalu tampil sebagai starter Selangor FA dan telah membukukan tiga gol di semua ajang. (Sir/bbs)

Continue Reading

Olahraga

Tampil Dengan Rambut Zaman Now

Published

on

By

metaonline.id
Gaya rambut Dele Alli. (istimewa)

METAONLINE,- Beberapa pemain timnas Inggris masih bisa menyempatkan waktunya untuk mengurus penampilan. Beberapa pemain seperti Dele Alli, Kyle Walker, dan lainnya memilih untuk mengubah gaya rambutnya.

Untuk urusan tersebut, para pemain itu tidak sembarangan memilih orang. Mereka mempercayakan gaya rambutnya kepada salah satu barber kenamaan di London, Justin Carr.

Carr mengaku bahwa klien pertamanya dari timnas Inggris adalah Kyle Walker. Pemain Manchester City itu sendiri mendapatkan saran dari rekan setimnya kala di Tottenham, Kyle Naughton.

“Pemain sepakbola Inggris pertama yang rambutnya saya dandani adalah Kyle Waker saat dia berada di Tottenham,” ujar Carr.

“Saya juga memotong rambut Kyle Naughton, mereka berdua adalah sahabat dan saling kenal sejak lama. Naughten lalu merujuk Walker kepada saya dan menjadi klien saya sejak itu,” lanjutnya. (Sir/bbs)

Continue Reading

Trending